A. Jenis Layanan Dan Kegiatan Dalam Bimbingan Dan Konseling
Dalam rangka
pencapaian tujuan Bimbingan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis
layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya:
1. Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk
memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru
dimasukinya. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki
lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan
menyenangkan bagi setiap orang.
Allan dan McKean menegaskan bahwa tanpa program-program orientasi,
periode penyesuaian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira tiga atau
empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian Allan dan McKean menunujukkan
beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
a. Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi; dan juga
memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan
masalah.
b. Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil
di sekolah.
c.
Anak-anak
dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang leni lama Untuk menyesuaikan
diri daripada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.[1]
2. Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang
memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan
pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik.
Layanan informasi ini bertujuan untuk membekali individu dengan berbagai
pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal
diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai siswa, anggota
keluarga dan masyarakat.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan informasi ada berbagai macam,
yaitu meliputi:
a. Informasi pengembangan pribadi
b. Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar
c. Informasi pendidikan tinggi
d. Informasi jabatan
e. Informasi kehidupan keluarga, social kemasyarakatan, keberagaman social budaya
dan lingkungan.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik
memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan potensi, bakat
dan minat serta kondisi pribadi. Fungsi utama dari layanan ini adalah fungsi
pencegahan, pemeliharaan, advokasi.
Sedangkan
materi yang dapat diangkat melalui layanan ini ada berbagai macam yaitu
meliputi :
a. Penempatan didalam kelas:berdasarkan kondisi dan ciri pribadi serta
hubungan social siswa serta asas pemerataan.
b. Penempatan dan penyaluran kedalam kelompok belajar
c. Penempatan dan penyaluran kedalam program yang lebih luas
4. Layanan Konten atau Layanan Pembelajaran
Yaitu layanan
bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik megembangkan diri dengan
sikap dan kebiasaan belajar yang baik, ketrampilan dan materi belajar yang
cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang
berguna dalam kehidupan dan perkembangan optimal dirinya.[2]
Adapun upaya
untuk membantu siswa yang mengalamimasalah belajar diantaranya :
a. Pengajaran perbaikan
b. Kegiatan pengayaan
c. Peningkatan motivasi belajar
d. Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif[3]
Adapun tujuan penguasaan konten terkait dengan fungsi-fungsi konseling
yaitu:
a. Fungsi pemahaman
b. Fungsi pencegahan
c. Fungsi pengentasan
d. Fungsi pengembangan dan pemeliharaan
e. Fungsi advokasi[4]
5. Layanan Konseling Perorangan
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik
mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing
dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan
bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik secara bersama-sama melalui dinamika kelompok
memperoleh berbagai bahan dan membahas topik tertentu yang berguna untuk
menunjang pemahaman dan kehidupannya sehari-hari, untuk perkembangan dirinya
baik secara individu maupun sebagai pelajar. Serta pengembangan kemampuan social, untuk
pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan bimbingan kelompok befungsi untuk pemahaman dan pengembangan.
7. Layanan Konseling kelompok
Yaitu memungkinan siswa masing-masing anggota kelompok memperoleh
kesempatan untuk membahas dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika
kelompok. Fungsi utama yang didukung oleh layanan konseling kelompok adalah
fungsi pengentasan.[5]
8. Layanan Mediasi
Layanan mediasi merupakan layanan yang memungkinkan pihak-pihak yang sedang dalam keadaan saling tidak
menemukan kecocokan menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan mereka.
Layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki
hubungan antar mereka.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah
dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup:
a. Aplikasi instrumentasi data
Yaitu kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta
didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat
dilakukan dengan menggunakan berbagai instrument, baik tes maupun non tes,
dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan
memahami karakteristik lingkungan.
b. Himpunan data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan
keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan didik. Himpunan data
diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik,komprehensif, terpadu dan
sifatnya tertutup.
c.
Konferensi
kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu
pertemuan yang dihadiri oleh pihak- pihak yang dapat memberikan keterangan,
kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien.
d. Kunjungan rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan,
kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui
kunjungan rumah klien.
e.
Alih
tangan kasus; merupakan kegiatan untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat
dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan
kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran
atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik
dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang
dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.[6]
B.
Analisis penerapan layanan bimbingan dan
konseling pada studi kasus
1)
Identitas Klien
Nama :
Onivia Ludi
Nama
panggilan :
Oni
Jenis kelamin :
Perempuan
Tempat tanggal
lahir : Malang, 23 Mei 1990
Agama :
Islam
Alamat :
Jl. Kertanegara 2 Malang
Cita-cita :
Menjadi orang sukses
Hobi :
Jalan-jalan.
Kasus: masalah yang dihadapi oleh klien antara lain
masalah belajar, keluarga.
2) Gambaran Keunikan Kasus
Pada saat
awal praktikan masuk kelas, praktikan melihat klien tergolong anak yang ceria,
klien suka sekali tertawa ketika ada hal-hal yang dirasanya lucu. Klien
tergolong anak yang gampang bergaul dan sangat terbuka dengan temannya. Dikelas
klien juga sangat antusias pada pelajaran, hal ini terbukti saat praktikan
masuk kelas klien untuk memberikan materi, klien selalu mengikuti dengan
seksama.
Akan
tetapi setelah beberapa kali praktikan masuk kelas sikap klien yang ceria
berubah menjadi pemurung. Klien sering menaruh kepalanya di meja, selain itu
juga klien kurang memperhatikan pelajaran. Klien sering sekali mendesah dan
kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran.
Klien
terlihat sangat dekat dengan kedua teman bangkunya hal ini terlihat hampir
setiap klien bertemu dengan praktikan selalu bersama kedua teman bangkunya
tersebut. Selain itu klien juga termasuk anak yang manja, klien selalu meminta
pertolongan pada teman-temannya untuk melakukan sesuatu.
·
Masalah Keluarga.
Orang tua
klien sudah bercerai, kedua orang tua klien sudah menikah kembali. Klien
tinggal dengan ibunya. Klien dekat dengan ibunya, sesekali klien curhat kepada
ibunya. Hubungan klien dengan ayah kandung klien kurang dekat. Hubungan klien
dengan ayah tiri klien juga kurang dekat, melainkan hubungan klien dengan ibu
tiri klien cukup dekat.
Klien
merasa ibunya plin-plan dalam mengambil keputusan untuk klien, hal ini
dibuktikan pada saat ibu klien melarang klien untuk menbina hubungan yang
spesial dengan teman laki-lakinya dan menyuruh klien untuk memutuskan hubungan
klien dengan pacar klien, keesokan harinya ibu klien memberitahukan pada klien
bahwa klien boleh membina hubungan yang lebih dari sekedar hubungan teman
dengan teman laki-laki klien asalkan hal itu tidak mengganggu konsentrasi klien
pada pelajaran, hal ini sangat disayangkan oleh klien karena klien sudah
terlanjur untuk memutuskan hubungannya dengan pacarnya.
3) Menentukan sumber penyebab masalah (etiologi)
Pada
tahap ini merupakan tahap mencari faktor-faktor penyebab masalah yang dihadapi
klien. faktor tersebut berasal dari dalam diri klien (intern) maupun dari luar
diri klien (ekstern)
a.
Faktor
intern
Faktor penyebab masalah yang dihadapi klien antara
lain:
·
Klien
bingung dengan banyaknya tugas yang diberikan sekolah.
·
Klien
belum dapat mengatur waktu.
·
Klien
kurang dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran.
·
Klien
belum dapat membagi waktu antara waktu belajar dan waktu bermain.
·
Klien
terlalu tergesa-gesa untuk mengakhiri hubungannnya dengan pacarnya.
·
Klien
merasa bersalah karena memutuskan pacarnya.
·
Klien
terlalu menganggap enteng pelajaran sekolah.
b.
Faktor
ekstern
Faktor dari luar diri klien yang menjadi penyebab
timbulnya masalah anatara lain:
·
Klien
jauh dari orang tua sehingga tidak ada yang mengawasi dan mengingatkan waktu
belajar klien.
·
Klien
memiliki banyak teman yang sering mengajak klien untuk keluar/jalan-jalan.
·
Ibu klien
membuat keputusan yang membingungkan klien.
·
Sikap
teman-teman mantan pacar klien yang membuat klien tidak nyaman untuk masuk
sekolah.
4) Bantuan yang direncanakan
1. Konseling Kelompok.
Konseling kelompok dilakukan praktikan
bersama klien dan teman-teman klien yang memiliki masalah yang hampir sama.
Masalah yang diangkat pada konseling kelompok ini adalah masalah belajar. Pada
konseling kelompok yang dilakukan oleh praktikan bertempat di luar ruang
bimbingan konseling tepatnya di taman depan lapangan. Dalam konseling kelompok
tersebut tidak banyak yang ikut serta, hanya prktikan, klien dan dua teman
klien yang lain. Bimbingan kelompok ini dilakukan praktikan pada hari Senin 6
November 2006.
Dalam
konseling kelompok yang dilaksanakan praktikan beserta klien dan dua teman
klien praktikan membahas tentang masalah bagaimana cara belajar yang
disesuaikan dengan kondisi SMA Negeri 3 Malang, dimana banyak sekali tugas dan
tuntuan nilai yang ditentukan oleh sekolah untuk diraih oleh siswa.
Dalam
pelaksanaan teknik ini praktikan membuka terlebih dahulu permasalahan yang
sedang dihadapi oleh klien, dan kemudian praktikan memberikan kesempatan pada
teman-teman klien untuk memberikan masukan kepada klien dan kemudian praktikan
memberikan kesempatan pada klien untuk menambahi masukan yang belum diberikan
oleh temannya.
Setelah
masukan-masukan baik dari klien maupun dari teman-teman klien, praktikan
bersama-sama klien dan teman-temannya merumuskan alternatif pemecahan masalah
yang akan dipilih untuk menyelesaikan masalahnya.
Adapun
hasil yang diperoleh dari konseling kelompok ini antara lain adalah klien
merasa masalah yang dihadapinya. Selain itu klien menjadi lebih terbuka pada
praktikan dan juga pada teman-temannya tentang permasalahan yang ia hadapi
khususnya masalah belajar klien. Klien dan juga kedua temannya merumuskan
jadwal belajar bersama.
5) Menberikan Informasi Cara Belajar yang Efektif.
Layanan
informasi yang diberikan pratikan berkaitan dengan permasalahan yang dialami
oleh klien yaitu pada bimbingan belajar. Pemberian informasi diberikan karena
klien belum mengetahui tentang bagaimana belajar yang efektif. Kegiatan ini
dilakukan oleh praktikan saat klien datang pada praktikan untuk berkonseling,
tepatnya pada hari Kamis 20 Oktober 2006. untuk pelaksanaan layanan informasi,
praktikan memberikan layanan informasi secara individual. Adapun tujuan dari
pemberian informasi ini melihat dari permasalahan klien yang mengalami
permasalahan dalam belajar. Informasi ini berisi tentang bagaimana seorang
dapat belajar secara efektif dengan pemahaman terhadap bahan yang dipelajari.[7]
[1]
Prayitno, Erman Amti, Dasar-dasar
Bimbingan Dan Konseling, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1999, hlm. 256
[2]
Hallen A., Bimbingan Dan
Konseling, Jakarta, Ciputat Pers, 2002, hlm. 84
[3]
Prayitno, Erman Amti, Op.Cit,
hlm. 284
[4]
Agus Retnanto, Bimbingan
dan Konseling, Kudus, Buku Daros, hlm. 143-144
[5]
Hallen A. Op. Cit, hlm. 88
[6]
Anas Salahuddin, Bimbingan
Dan Konseling, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2009, hlm. 140
[7]
Blogspot.layananbimbingankonseling.com
No comments:
Post a Comment
Terima Kasih banyak sudah berkomentar di postingan ini.