Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Friday, May 3, 2013

Sumber Dan Dasar Pijakan Ilmu Tasawwuf



Tasawwuf merupakan bidang keilmuan Islam sebagaimana ilmu Islam lainnya.Ilmu tasawwuf terlahir dengan memiliki dalil dan penuh pertimbangan yang sudah matang. Sebagaimana diketahui dalam konteks keislaman, ada dua sumber pijakan dasar ilmu Tasawwuf, yaitu al-Quran dan al-Hadits. Keduanya adalah dasar yang dijadikan sebagai landasan sumber perkembangan ilmu pengetahuan di dalam Islam[1].
Sedangkan sumber pijakan sekunder ilmu Tasawwuf yaitu ijma'ulama, ijtihad 'ulama, qiyas,ilhamullah dan hidayatullah. Dari 7 dasar itulah menjadi dasar keberadaan ilmu tasawwuf[2]. Terlepas dari kritikan negatif dari berbagai kalangan yang ilmunya belum benar-benar mendalami, mempelajari lebih mendalam dan orang-orang yang di hatinya ada iri, dengki kepada sufi Allah dan juga dari orang yang hati dan fikirannya sama sekali tidak mengakui keberadaan kebenaran keesaan serta kekuasan-Nya. Jadi wajarlah mereka berfikir negatif tentang tasawwuf karena tak mempelajari lebih dalam.
Berdasarkan al-Qur'an banyak materi yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadist membidani lahirnya tasawuf.Al-quran sebagai sumber utama Islam memberikan penjelasan terhadap persoalan aqidah dan meluruskan umat islam yang sudah rusak akibat hawa nafsunya. Selain itu, al-Qur’an menetapkan berbagai aturan yang dijadikan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Al-Qur’an juga memberikan penjelasan tentang penyucian hati yang merupakan obyek tasawuf. Seperti dalam Surah Al Maidah 54 yang menerangkan bahwa Allah menurunkan kaum yang memiliki cinta atau mahabbah. Cinta adalah sebuah rasa dan keadaan jiwa yang dapat mendamaikan kehidupan. Selanjutnya dlm Al Qur’an selalu ditekankan kepada orang-orang yang beriman untuk mensucikan jiwa. Proses penyucian dalam tasawuf dinamakan Tazkiyatun Nafs.
“Artimya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”[3]
Dalam surah Al-Baqarah 115 Menerangkan konsep mahabbah dan wahdat al wujud. Konsep-konsep inilah sangat penting dalam tasawuf. Dalam surah Al Baqarah 186 dan Qaf 16 menerangkan bahwa Allah sangat dekat. Untuk itu berlaku hati-hatilah terhadap perilaku karena Allah selalu melihat. Allah maha mendengar, ini merupakan ajaran tasawuf yang selalu ditekankan.
Dalam surah Fathir 5 dan An Nisa 77 juga menerangkan untuk tidak terikat pada kehidupan duniawi yang serba material karena kehidupan ini akan sia-sia jika tidak dapat mencapai tujuan yang hakiki hidup didunia. Di lain ayat mengajarkan Takwa, syukur, sabar, ridho dan tawakkal ini merupakan ajaran-ajaran dan pakaian bagi seorang penempuh jalan Ruhani. Keterangan ini bisa kita bisa lihat dalam surah Al-Hujurat 13, Al-Zumar 39, Ibrahim 7, Al-Mu'min55, Al-Maidah119.
Berdasarkan sunnah.Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam merupakan panutan dan tuntunan hidup kaum sufi untuk mendekatkan diri pada Allah. Imam At-Taftazani membagi kehidupan Rasul dalam 2 bagian yang pertama sebelum diangkat menjadi Rasul dan kehidupan ketika sudah diangkat menjadi Rasul.
Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau mengasingkan diri ditempat sunyi khususnya di bulan Ramadhan beliau merenung dan meminta petunjuk di Gua Hira. Jauh dari keramaian dan kesibukan duniawi, beliau bertafakur dan menyucikan diri. Dalam keadaan inilah Allah memberikan petunjuk dan mengangkatnya sebagai Rasul.
Kehidupan inilah yg menjadi inspirasi bagi para sufi melakukan riyadlah agar kesucian jiwa terpenuhi demi mendapatkan pengenalan dan menjadi kekasih Allah. Setelah diangkat menjadi Rasul tak ada sesaat pun dalam kehidupan beliau yang tak tercatat dan terekam oleh umatnya,perintah,perilaku,dan laranganya serta penetapanya dijadikan sumber hukum setelah Al Quran dan inilah dijadikan pegangan bagi para kaum sufi.[4]
Dalam sebuah doa beliau " ya Allah hidupkanlah aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin" (HR. Al-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Hakim).[5]Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau datang ke rumah istirinya Aisyah ternyata dirumah tak ada makanan hal tersebut diterima dengan sabar dan beliau menahan laparnya dengan berpuasa (HR. Abu Daud, Al Tirmidzi dan Al-Nasa'i). [6]
Begitpula hadist lain bahwa beliau memiliki sifat yang terpuji seperti kasih sayang, penyantun, suka memberi, suka berterima kasih dsb. Hal ini yang ditunjukan pada Aisyah ketika ditanya tentang akhlak-ahlaknya adalah Al-Qur'an. (HR. Ahmad dan Muslim).[7]
Beliau adalah suri tauladan untuk seluruh umat manusia,yang berusaha dipraktekan oleh kaum sufi.Diceritakan dalam riwayat Aisyah suatu malam beliau mengerjakan sholat malam karna panjang dan banyak rakaatnya, lututnya bergetar tak kala sujud terdengar suara tangisnya namun beliau tetap melaksanakn sholat.Melihat Nabi maka Aisyah bertanya "wahai tuan bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni Allah Mengapa engkau banyak melakukan sholat?Beliau menjawab Aku ingin menjadi hamba yg banyak bersyukur" (HR.Bukhari dan Muslim).[8]
 Dalam perilaku beliau sering memberikan nasihat bagaimana laku hidup yang baik agar dekat dengan Allah "Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu"(Hr.Ibn Majah, At-Thabrani, Alhakim dan Baihaqi).[9]
Pengakuan dan persaksian kepada Allah swt. dan Nabi saw sebagai Tuhan dan utusan Allah swt. tidak cukup hanya dengan lisan tanpa dibuktikan dengan amalan ibadah keseharian dengan melaksanakan rukun islam yang lainnya, termasuk shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu menjalankannya. Keimanan tersebut tidak cukup tanpa dijiwai dengan semangat keimanan. Kepercayaan dan keyakinan kepada Allah dan rasulnya serta hal-hal lain yang masuk di dalam kewajiban yang harus dipercayai oleh umat islam.
Islam dan iman belumlah cukup menjadikan umat islam sempurna kecuali dengan melakukan amalan perbuatan yang mencerminkan perbuatan ihsan. Dimensi inilah yang menjadi wadah munculnya tasawuf yang dalam sejarahnya memunculkan berbagai kegiatan yang diawali dengan sikap zuhud. Selanjutnya, tasawuf  juga berkembang ke arah amalan praktis yang dpat di jadikan acuan untuk mensucikan hati melalui serangkaian kegiatan yang disebut thariqot yang banyak dilakukan oleh umat islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. dan mensucikan hatinya.[10]
Dari pembahasan di atas dapat dikatakan adanya keterkaitan antara tasawuf dengan ilmu lain sepertu kalam dan fiqih. Kalam sebagai manifestasi keimanan seseorang dan fiqih sebagai bentuk pemahaman yang intinya dalam implementasi keyakinan dalam ranah pengabdian dan ketulusan yang terhingga.
Beberapa sumber diatas dijadikan bukti dan penguat bahwa Al Quran dan Hadist  merupakan sumber dan dasar pijakan tasawuf.[11] Jika sekalangan pendapat mengatakan bahwa praktek zuhud, kewalian dan teori-teori falsafi bukanlah ajaran Nabi sungguh sangat disayangkan karena persepsi yang demikian sangat bersifat interpreatif, subyektif dan tidak mendasar.


[1] Mulyadhi Kartanegara. 2006. Menyelami Lubuk Tasawwuf. Jakarta: Erlangga. Hlm.37.

[2] Ibid. Hlm. 41.
[3] Al-Quran dan terjemahannya. 2002. Departemen Agama RI. Al- Maidah
[4] Al-Fatih. Suryadilaga. 2008. Miftahus Sufi. Yogyakarta: Teras. Hlm. 56.

[5] Sunan Al-Turmudzi. Al-Maktabah Al-Syamilah. Juz II.
[6] Sunan Abu Daud. Al-Maktabah Al-Syamilah.
[7] Ibid. Hlm. 61.
[8] Shahih Bukhari. Al-Maktabah Al-Syamilah. Juz I
[9] Sunan At-Thabrani. Al-Maktabah Al-Syamilah.
[10] Amin. Sukur. 1999. Menggugat Tasawwuf. Yogyakarta: Pustaka Pelajar .Hlm.109.

[11] Op, cit. Hlm. 115