Tasawwuf merupakan bidang keilmuan Islam
sebagaimana ilmu Islam lainnya.Ilmu tasawwuf terlahir dengan memiliki dalil dan
penuh pertimbangan yang sudah matang. Sebagaimana diketahui dalam konteks
keislaman, ada dua sumber pijakan dasar ilmu Tasawwuf, yaitu al-Quran dan
al-Hadits. Keduanya adalah dasar yang dijadikan sebagai landasan sumber perkembangan
ilmu pengetahuan di dalam Islam[1].
Sedangkan sumber pijakan sekunder ilmu
Tasawwuf yaitu ijma'ulama, ijtihad 'ulama, qiyas,ilhamullah dan hidayatullah. Dari
7 dasar itulah menjadi dasar keberadaan ilmu tasawwuf[2].
Terlepas dari kritikan negatif dari berbagai kalangan yang ilmunya belum
benar-benar mendalami, mempelajari lebih mendalam dan orang-orang yang di
hatinya ada iri, dengki kepada sufi Allah dan juga dari orang yang hati dan
fikirannya sama sekali tidak mengakui keberadaan kebenaran keesaan serta
kekuasan-Nya. Jadi wajarlah mereka berfikir negatif tentang tasawwuf karena tak
mempelajari lebih dalam.
Berdasarkan al-Qur'an banyak materi yang terdapat
dalam al-Qur’an dan al-Hadist membidani lahirnya tasawuf.Al-quran sebagai
sumber utama Islam memberikan penjelasan terhadap persoalan aqidah dan
meluruskan umat islam yang sudah rusak akibat hawa nafsunya. Selain itu,
al-Qur’an menetapkan berbagai aturan yang dijadikan kebahagiaan manusia di
dunia dan akhirat.
Al-Qur’an juga memberikan penjelasan tentang
penyucian hati yang merupakan obyek tasawuf. Seperti dalam Surah Al Maidah
54 yang menerangkan bahwa Allah menurunkan kaum yang memiliki cinta atau mahabbah.
Cinta adalah sebuah rasa dan keadaan jiwa yang dapat mendamaikan kehidupan. Selanjutnya
dlm Al Qur’an selalu ditekankan kepada orang-orang yang beriman untuk
mensucikan jiwa. Proses penyucian dalam tasawuf dinamakan Tazkiyatun Nafs.
“Artimya : Hai orang-orang
yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak
Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun
mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan
yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah,
diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”[3]
Dalam surah Al-Baqarah 115
Menerangkan konsep mahabbah dan wahdat al wujud. Konsep-konsep inilah sangat
penting dalam tasawuf. Dalam surah Al Baqarah 186 dan Qaf 16 menerangkan
bahwa Allah sangat dekat. Untuk itu berlaku hati-hatilah terhadap perilaku karena
Allah selalu melihat. Allah maha mendengar, ini merupakan ajaran tasawuf yang
selalu ditekankan.
Dalam surah Fathir 5 dan An Nisa 77
juga menerangkan untuk tidak terikat pada kehidupan duniawi yang serba material
karena kehidupan ini akan sia-sia jika tidak dapat mencapai tujuan yang hakiki
hidup didunia. Di lain ayat mengajarkan Takwa, syukur, sabar, ridho dan
tawakkal ini merupakan ajaran-ajaran dan pakaian bagi seorang penempuh jalan
Ruhani. Keterangan ini bisa kita bisa lihat dalam surah Al-Hujurat 13,
Al-Zumar 39, Ibrahim 7, Al-Mu'min55, Al-Maidah119.
Berdasarkan sunnah.Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam merupakan panutan dan tuntunan hidup kaum sufi untuk
mendekatkan diri pada Allah. Imam At-Taftazani membagi kehidupan Rasul dalam 2
bagian yang pertama sebelum diangkat menjadi Rasul dan kehidupan ketika sudah
diangkat menjadi Rasul.
Sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau mengasingkan
diri ditempat sunyi khususnya di bulan Ramadhan beliau merenung dan meminta
petunjuk di Gua Hira. Jauh dari keramaian dan kesibukan duniawi, beliau bertafakur
dan menyucikan diri. Dalam keadaan inilah Allah memberikan petunjuk dan
mengangkatnya sebagai Rasul.
Kehidupan inilah yg menjadi inspirasi bagi
para sufi melakukan riyadlah agar kesucian jiwa terpenuhi demi mendapatkan
pengenalan dan menjadi kekasih Allah. Setelah diangkat menjadi Rasul tak ada
sesaat pun dalam kehidupan beliau yang tak tercatat dan terekam oleh
umatnya,perintah,perilaku,dan laranganya serta penetapanya dijadikan sumber
hukum setelah Al Quran dan inilah dijadikan pegangan bagi para kaum sufi.[4]
Dalam sebuah doa beliau " ya Allah hidupkanlah
aku dalam kemiskinan dan matikanlah aku selaku orang miskin" (HR. Al-Tirmidzi,
Ibn Majah, dan Al-Hakim).[5]Dalam
riwayat lain disebutkan bahwa beliau datang ke rumah istirinya Aisyah ternyata
dirumah tak ada makanan hal tersebut diterima dengan sabar dan beliau menahan
laparnya dengan berpuasa (HR. Abu Daud, Al Tirmidzi dan Al-Nasa'i). [6]
Begitpula hadist lain bahwa beliau memiliki
sifat yang terpuji seperti kasih sayang, penyantun, suka memberi, suka
berterima kasih dsb. Hal ini yang ditunjukan pada Aisyah ketika ditanya tentang
akhlak-ahlaknya adalah Al-Qur'an. (HR. Ahmad dan Muslim).[7]
Beliau adalah suri tauladan untuk seluruh
umat manusia,yang berusaha dipraktekan oleh kaum sufi.Diceritakan dalam riwayat
Aisyah suatu malam beliau mengerjakan sholat malam karna panjang dan banyak
rakaatnya, lututnya bergetar tak kala sujud terdengar suara tangisnya namun
beliau tetap melaksanakn sholat.Melihat Nabi maka Aisyah bertanya "wahai
tuan bukankah dosamu yang terdahulu dan yang akan datang telah diampuni Allah
Mengapa engkau banyak melakukan sholat?Beliau menjawab Aku ingin menjadi hamba
yg banyak bersyukur" (HR.Bukhari dan Muslim).[8]
Dalam
perilaku beliau sering memberikan nasihat bagaimana laku hidup yang baik agar
dekat dengan Allah "Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu"(Hr.Ibn
Majah, At-Thabrani, Alhakim dan Baihaqi).[9]
Pengakuan dan persaksian kepada Allah swt. dan
Nabi saw sebagai Tuhan dan utusan Allah swt. tidak cukup hanya dengan lisan
tanpa dibuktikan dengan amalan ibadah keseharian dengan melaksanakan rukun
islam yang lainnya, termasuk shalat, puasa, zakat, dan haji bagi yang mampu
menjalankannya. Keimanan tersebut tidak cukup tanpa dijiwai dengan semangat
keimanan. Kepercayaan dan keyakinan kepada Allah dan rasulnya serta hal-hal
lain yang masuk di dalam kewajiban yang harus dipercayai oleh umat islam.
Islam dan iman belumlah cukup menjadikan
umat islam sempurna kecuali dengan melakukan amalan perbuatan yang mencerminkan
perbuatan ihsan. Dimensi inilah yang menjadi wadah munculnya tasawuf yang dalam
sejarahnya memunculkan berbagai kegiatan yang diawali dengan sikap zuhud.
Selanjutnya, tasawuf juga berkembang ke
arah amalan praktis yang dpat di jadikan acuan untuk mensucikan hati melalui
serangkaian kegiatan yang disebut thariqot yang banyak dilakukan oleh umat
islam dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt. dan mensucikan hatinya.[10]
Dari pembahasan di atas dapat dikatakan
adanya keterkaitan antara tasawuf dengan ilmu lain sepertu kalam dan fiqih.
Kalam sebagai manifestasi keimanan seseorang dan fiqih sebagai bentuk pemahaman
yang intinya dalam implementasi keyakinan dalam ranah pengabdian dan ketulusan
yang terhingga.
Beberapa sumber diatas dijadikan bukti dan
penguat bahwa Al Quran dan Hadist
merupakan sumber dan dasar pijakan tasawuf.[11]
Jika sekalangan pendapat mengatakan bahwa praktek zuhud, kewalian dan teori-teori
falsafi bukanlah ajaran Nabi sungguh sangat disayangkan karena persepsi yang
demikian sangat bersifat interpreatif, subyektif dan tidak mendasar.
[1] Mulyadhi Kartanegara. 2006. Menyelami
Lubuk Tasawwuf. Jakarta:
Erlangga. Hlm.37.
[2] Ibid. Hlm. 41.
[3] Al-Quran dan terjemahannya. 2002. Departemen Agama RI. Al-
Maidah
[4] Al-Fatih. Suryadilaga. 2008. Miftahus
Sufi. Yogyakarta: Teras. Hlm. 56.
[5] Sunan Al-Turmudzi. Al-Maktabah Al-Syamilah. Juz II.
[6] Sunan Abu Daud. Al-Maktabah Al-Syamilah.
[7] Ibid. Hlm. 61.
[8] Shahih Bukhari. Al-Maktabah Al-Syamilah. Juz I
[9] Sunan At-Thabrani. Al-Maktabah Al-Syamilah.
[10] Amin. Sukur. 1999. Menggugat Tasawwuf.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar .Hlm.109.
[11] Op, cit. Hlm. 115
No comments:
Post a Comment
Terima Kasih banyak sudah berkomentar di postingan ini.