Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Tuesday, June 18, 2013

Tata Cara Mitoni / Tingkeban

UBO RAMPE MITONI/TINGKEBAN
(Selamatan Tujuh Bulanan)



Mitoni atau selamatan tujuh bulanan, dilakukan setelah kehamilan seorang ibu genap usia 7 bulan atau lebih. Dilaksanakan tidak boleh kurang dari 7 bulan, sekalipun kurang sehari. Belum ada neptu atau weton (hari masehi + hari Jawa) yang dijadikan patokan pelaksnaan, yang penting ambil hari selasa atau sabtu.  Tujuan mitoni atau tingkeban agar supaya ibu dan janin selalu dijaga dalam kesejahteraan dan keselamatan (wilujeng, santosa, jatmika, rahayu).

PERSYARATAN :

1. Bubur 7 macam :
Kombinasi 7 macam; (1) bubur merah (2) bubur putih (3) merah ditumpangi putih, (4)  putih ditumpangi merah, (5) putih disilang merah, (6) merah disilang putih, (7) baro-baro (bubur putih diatasnya dikasih parutan kelapa dan sisiran gula jawa).
Bubur putih dimakan oleh sang Ayah. Bubur merah dimakan sang Ibu. Bubur yang lain dimakan sekeluarga.


Bahan;
Bubur putih gurih (dimasak pake santen) dan bubur merah (dimasak pake gula jawa);
Bubur ditaruh di piring kecil-kecil;
2. Gudangan Mateng  (sayurnya direbus) :
Bahan ; Sayur 7 macam; harus ada kangkung dan kacang. Kangkung dan kacang  panjang jangan dipotong-potong, dibiarkan panjang saja. Semua sayuran direbus.
Bumbu gudangannya pedas.
3. Nasi Megono ; Nasi dicampur bumbu gudangan pedes lalu dikukus.
4. Jajan Pasar ; biasanya berisi 7 macam makanan jajanan pasar tradisional.
5. Rujak ; bumbunya pedas dengan 7 macam buah-buahan.
6. Ampyang ; ampyang kacang, ampyang wijen dll (7 macam ampyang). Apabila kesulitan mendapatkan 7 macam ampyang, boleh sedapatnya saja.
7. Aneka Ragam Kolo ;
Kolo kependem (kacang tanah, singkong, talas), kolo gumantung (pepaya), kolo merambat  (ubi/ketela rambat); kacang tanah, singkong, talas, ketela, pepaya. direbus kecuali pepaya. Pepaya yang sudah masak. Masing-masing jenis kolo tidak harus semua, tetapi bisa dipilih salah satu saja. Misalnya kolo kependhem; ambil saja salah satu misalnya kacang tanah. Jika kesulitn mencari kolo yang lain; yang penting ada dua macam kolo ; yakni cangelo; kacang tanah  +  ketela (ubi jalar).
8. Ketan ; dikukus lalu dibikin bulatan sebesar bola bekel (diameter 3-4 cm); warna putih, merah, hijau, coklat, kuning.
9. Tumpeng nasi putih; kira-kira cukup untuk makan 7 atau 11, atau 17 orang.
10. Telur ; telur ayam 7 butir.
11. Pisang ; pisang raja dan pisang raja pulut masing-masing satu lirang/sisir.
12. Tumpeng tujuh macam warna; tumpeng dibuat kecil-kecil dengan warna yang berbeda-beda. Bahan nasi biasa yang diwarnai.

TATA CARA
Tumpeng ditaruh di atas kalo (saringan santan yang baru). Bawahnya tumpeng dialasi daun pisang. Di bawah kalo dialasi cobek agar kalo tidak ngglimpang. Sisa potongan  daun pisang diletakkan di antara cobek dan pantat kalo.

Sayur 7 macam direbus diletakkan mengelilingi tumpeng, letakkan bumbu gudangannya melingkari tumpeng juga. Telur ayam (boleh ayam kampung  atau ayam petelur) jumlahnya 7 butir, direbus lalu dikupas, diletakkan mengelilingi tumpeng. Masing-masing telur boleh di belah jadi dua. Pucuk tumpeng dikasih sate yang berisi ; cabe merah, bawang merah, telur utuh dikupas kulitnya, cabe merah besar, tancapkan vertikal. (urutan ini dari bawah ke atas; lihat gambar).

Tusuk satenya dari bambu, posisi berdiri di atas pucuk tumpeng; urutan dari bawah; cabe merah besar posisi horisontal, bawang merah dikupas, telur kupas utuh, bawang merah lagi, paling atas cabe merah besar posisi vertikal.

Pisang, jajan pasar, 7 macam kolo, dan 7 macam ampyang ditata dalam satu wadah tersendiri, namanya tambir atau tampah tanpa bingkai yg lebar.
Tambirnya juga yg baru, jangan bekas. Tampah “pantatnya” rata datar, sedangkan tambir pantatnya sedikit agak cembung.
Tumpeng tujuh macam warna ukuran mini, ditaruh mengelilingi tumpeng besar. Boleh diletakkan di atas sayuran yang mengelilingi tumpeng besar.

Setelah ubo rampe semua selesai disiapkan, maka dimulailah berdoa. Doa boleh dengan tata cara atau agama masing-masing. Inilah fleksibilitas dan toleransi dalam ajaran Jawa.
Berikut ini contoh doa menurut tradisi Jawa;

Diucapkan oleh orang tua jabang bayi (ayah dan ibu);
“Niat ingsun nylameti jabang bayi, supaya kalis ing rubeda, nir ing sambikala, saka kersaning Gusti Allah. Dadiyo bocah kang bisa mikul dhuwur mendhem jero wong tuwa, migunani marang sesama, ambeg utama, yen lanang kadya Raden Komajaya, yen wadon kadya Dewi Komaratih..kabeh saka kersaning Gusti Allah.

Apabila orang tua beragama Islam, setelah doa secara tradisi, lalu bacakan surat Maryam atau surat Yusuf. Pilih di antara keduanya sesuai keinginan hati nurani. Jika feeling anda ingin membaca surat Maryam, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila yang dibaca  surat Yusuf, biasanya jabang bayi lahir laki-laki.

Dalam tradisi Jawa, yang membuat bumbu rujak dilakukan oleh ibu jabang bayi. Jika bumbunya rasanya asin, biasanya jabang bayi lahir perempuan. Bila tidak kasinen (kebanyakan garam), biasanya lahir laki-laki.

Akan tetapi karna teknologi medis sudah sedemikian canggih, sampai ditemukan USG empat dimensi, jenis kelamin bayi sudah dapat diketahui lebih dini.

Acara mitoni atau tingkeban yang kami paparkan di atas adalah tatacara sederhana. Akan tetapi bukan berarti tidak absah, hanya tidak lengkap saja. Sedangkan tatacara yang lengkap yang biasanya masih dilakukan di kraton-kraton dan masyarakat Jawa yang masih kuat memegang tradisi. Rangkaian acara untuk upacara mitoni secara lengkap urut-urutannya yaitu;

Siraman, memasukkan telor ayam kampung di dalam kain calon ibu dilakukan oleh calon bapak, ganti baju tujuh kali,  brojolan (memasukkan kelapa gading muda), memutus benang lawe atau lilitan benang (atau janur), memecah wajan dan gayung, mencuri telor dan terakhir kendhuri.




Catatan :
Acara siraman hanya diselenggarakan untuk mitoni anak pertama.


Selamat melaksanakan mitoni atau tingkeban semoga menjadi anak yang linuwih, mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua, berguna untuk sesama, masyarakat, agama, dan negara.

Sunday, March 31, 2013

JENIS LAYANAN DAN KEGIATAN BIMBINGAN KONSELING


    A.    Jenis Layanan Dan Kegiatan Dalam Bimbingan Dan Konseling
Dalam rangka pencapaian tujuan Bimbingan Konseling di sekolah, terdapat beberapa jenis layanan yang diberikan kepada siswa, diantaranya:
1.      Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah layanan bimbingan yang dilakukan untuk memperkenalkan siswa baru dan atau seseorang terhadap lingkungan yang baru dimasukinya. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan menyenangkan bagi setiap orang.
Allan dan McKean menegaskan bahwa tanpa program-program orientasi, periode penyesuaian untuk sebagian besar siswa berlangsung kira-kira tiga atau empat bulan. Dalam kaitan itu, penelitian Allan dan McKean menunujukkan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu:
a.       Program orientasi yang efektif mempercepat proses adaptasi; dan juga memberikan kemudahan untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
b.      Murid-murid yang mengalami masalah penyesuaian ternyata kurang berhasil di sekolah.
c.       Anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang rendah memerlukan waktu yang leni lama Untuk menyesuaikan diri daripada anak-anak dari kelas sosio-ekonomi yang lebih tinggi.[1]
2.      Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik.
Layanan informasi ini bertujuan untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan dan mengembangkan pola kehidupan sebagai siswa, anggota keluarga dan masyarakat.
Materi yang dapat diangkat melalui layanan informasi ada berbagai macam, yaitu meliputi:
a.       Informasi pengembangan pribadi
b.      Informasi kurikulum dan proses belajar mengajar
c.       Informasi pendidikan tinggi
d.      Informasi jabatan
e. Informasi kehidupan keluarga, social kemasyarakatan, keberagaman social budaya dan lingkungan.
3.      Layanan Penempatan dan Penyaluran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat sesuai dengan potensi, bakat dan minat serta kondisi pribadi. Fungsi utama dari layanan ini adalah fungsi pencegahan, pemeliharaan, advokasi.
Sedangkan materi yang dapat diangkat melalui layanan ini ada berbagai macam yaitu meliputi :
a.       Penempatan didalam kelas:berdasarkan kondisi dan ciri pribadi serta hubungan social siswa serta asas pemerataan.
b.      Penempatan dan penyaluran kedalam kelompok belajar
c.       Penempatan dan penyaluran kedalam program yang lebih luas
4.      Layanan Konten atau Layanan Pembelajaran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik megembangkan diri dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik, ketrampilan dan materi belajar yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta tuntutan kemampuan yang berguna dalam kehidupan dan perkembangan optimal dirinya.[2]
Adapun upaya untuk membantu siswa yang mengalamimasalah belajar diantaranya :
a.       Pengajaran perbaikan
b.      Kegiatan pengayaan
c.       Peningkatan motivasi belajar
d.      Pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif[3]
Adapun tujuan penguasaan konten terkait dengan fungsi-fungsi konseling yaitu:
a.       Fungsi  pemahaman
b.      Fungsi pencegahan
c.       Fungsi pengentasan
d.      Fungsi pengembangan dan pemeliharaan
e.       Fungsi advokasi[4]

5.      Layanan Konseling Perorangan
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendapat layanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
6.      Layanan Bimbingan Kelompok
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan sejumlah peserta didik  secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dan membahas topik tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman dan kehidupannya sehari-hari, untuk perkembangan dirinya baik secara individu maupun sebagai pelajar. Serta pengembangan kemampuan social, untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok. Layanan bimbingan kelompok befungsi untuk pemahaman dan pengembangan.
7.      Layanan Konseling kelompok
Yaitu memungkinan siswa masing-masing anggota kelompok memperoleh kesempatan untuk membahas dan pengentasan permasalahan pribadi melalui dinamika kelompok. Fungsi utama yang didukung oleh layanan konseling kelompok adalah fungsi pengentasan.[5]
8.      Layanan Mediasi
Layanan mediasi merupakan layanan yang memungkinkan pihak-pihak yang sedang dalam keadaan saling tidak menemukan kecocokan menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan mereka. Layanan yang membantu peserta didik menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan antar mereka.
Untuk menunjang kelancaran pemberian layanan-layanan seperti yang telah dikemukakan di atas, perlu dilaksanakan berbagai kegiatan pendukung, mencakup:
    a.       Aplikasi instrumentasi data
Yaitu kegiatan untuk mengumpulkan data dan keterangan tentang peserta didik, tentang lingkungan peserta didik dan lingkungan lainnya, yang dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai instrument, baik tes maupun non tes, dengan tujuan untuk memahami peserta didik dengan segala karakteristiknya dan memahami karakteristik lingkungan.
    b.      Himpunan data; merupakan kegiatan untuk menghimpun seluruh data dan keterangan yang relevan dengan keperluan pengembangan didik. Himpunan data diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematik,komprehensif, terpadu dan sifatnya tertutup.
   c.       Konferensi kasus; merupakan kegiatan untuk membahas permasalahan peserta didik dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh pihak- pihak yang dapat memberikan keterangan, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan klien.
    d.      Kunjungan rumah; merupakan kegiatan untuk memperoleh data, keterangan, kemudahan, dan komitmen bagi terentaskannya permasalahan peserta didik melalui kunjungan rumah klien.
    e.       Alih tangan kasus; merupakan kegiatan untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dialami klien dengan memindahkan penanganan kasus ke pihak lain yang lebih kompeten, seperti kepada guru mata pelajaran atau konselor, dokter serta ahli lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh penanganan yang lebih tepat dan tuntas atas permasalahan yang dihadapinya melalui pihak yang lebih kompeten.[6]
    B.     Analisis penerapan layanan bimbingan dan konseling pada studi kasus
1)      Identitas Klien
Nama : Onivia Ludi
Nama panggilan               : Oni
Jenis kelamin                   : Perempuan
Tempat tanggal lahir        : Malang, 23 Mei 1990
Agama                             : Islam
Alamat                             : Jl. Kertanegara 2 Malang
Cita-cita                           : Menjadi orang sukses
Hobi                                 : Jalan-jalan.
Kasus: masalah yang dihadapi oleh klien antara lain masalah belajar, keluarga.
2)      Gambaran Keunikan Kasus
Pada saat awal praktikan masuk kelas, praktikan melihat klien tergolong anak yang ceria, klien suka sekali tertawa ketika ada hal-hal yang dirasanya lucu. Klien tergolong anak yang gampang bergaul dan sangat terbuka dengan temannya. Dikelas klien juga sangat antusias pada pelajaran, hal ini terbukti saat praktikan masuk kelas klien untuk memberikan materi, klien selalu mengikuti dengan seksama.
Akan tetapi setelah beberapa kali praktikan masuk kelas sikap klien yang ceria berubah menjadi pemurung. Klien sering menaruh kepalanya di meja, selain itu juga klien kurang memperhatikan pelajaran. Klien sering sekali mendesah dan kurang bersemangat untuk mengikuti pelajaran.
Klien terlihat sangat dekat dengan kedua teman bangkunya hal ini terlihat hampir setiap klien bertemu dengan praktikan selalu bersama kedua teman bangkunya tersebut. Selain itu klien juga termasuk anak yang manja, klien selalu meminta pertolongan pada teman-temannya untuk melakukan sesuatu.
·         Masalah Keluarga.
Orang tua klien sudah bercerai, kedua orang tua klien sudah menikah kembali. Klien tinggal dengan ibunya. Klien dekat dengan ibunya, sesekali klien curhat kepada ibunya. Hubungan klien dengan ayah kandung klien kurang dekat. Hubungan klien dengan ayah tiri klien juga kurang dekat, melainkan hubungan klien dengan ibu tiri klien cukup dekat.
Klien merasa ibunya plin-plan dalam mengambil keputusan untuk klien, hal ini dibuktikan pada saat ibu klien melarang klien untuk menbina hubungan yang spesial dengan teman laki-lakinya dan menyuruh klien untuk memutuskan hubungan klien dengan pacar klien, keesokan harinya ibu klien memberitahukan pada klien bahwa klien boleh membina hubungan yang lebih dari sekedar hubungan teman dengan teman laki-laki klien asalkan hal itu tidak mengganggu konsentrasi klien pada pelajaran, hal ini sangat disayangkan oleh klien karena klien sudah terlanjur untuk memutuskan hubungannya dengan pacarnya.
3)      Menentukan sumber penyebab masalah (etiologi)
Pada tahap ini merupakan tahap mencari faktor-faktor penyebab masalah yang dihadapi klien. faktor tersebut berasal dari dalam diri klien (intern) maupun dari luar diri klien (ekstern)
a.         Faktor intern
Faktor penyebab masalah yang dihadapi klien antara lain:
·         Klien bingung dengan banyaknya tugas yang diberikan sekolah.
·         Klien belum dapat mengatur waktu.
·         Klien kurang dapat berkonsentrasi terhadap pelajaran.
·         Klien belum dapat membagi waktu antara waktu belajar dan waktu bermain.
·         Klien terlalu tergesa-gesa untuk mengakhiri hubungannnya dengan pacarnya.
·         Klien merasa bersalah karena memutuskan pacarnya.
·         Klien terlalu menganggap enteng pelajaran sekolah.
b.             Faktor ekstern
Faktor dari luar diri klien yang menjadi penyebab timbulnya masalah anatara lain:
·         Klien jauh dari orang tua sehingga tidak ada yang mengawasi dan mengingatkan waktu belajar klien.
·         Klien memiliki banyak teman yang sering mengajak klien untuk keluar/jalan-jalan.
·         Ibu klien membuat keputusan yang membingungkan klien.
·         Sikap teman-teman mantan pacar klien yang membuat klien tidak nyaman untuk masuk sekolah.
4)      Bantuan yang direncanakan
1.      Konseling Kelompok.
Konseling kelompok dilakukan praktikan bersama klien dan teman-teman klien yang memiliki masalah yang hampir sama. Masalah yang diangkat pada konseling kelompok ini adalah masalah belajar. Pada konseling kelompok yang dilakukan oleh praktikan bertempat di luar ruang bimbingan konseling tepatnya di taman depan lapangan. Dalam konseling kelompok tersebut tidak banyak yang ikut serta, hanya prktikan, klien dan dua teman klien yang lain. Bimbingan kelompok ini dilakukan praktikan pada hari Senin 6 November 2006.
Dalam konseling kelompok yang dilaksanakan praktikan beserta klien dan dua teman klien praktikan membahas tentang masalah bagaimana cara belajar yang disesuaikan dengan kondisi SMA Negeri 3 Malang, dimana banyak sekali tugas dan tuntuan nilai yang ditentukan oleh sekolah untuk diraih oleh siswa.
Dalam pelaksanaan teknik ini praktikan membuka terlebih dahulu permasalahan yang sedang dihadapi oleh klien, dan kemudian praktikan memberikan kesempatan pada teman-teman klien untuk memberikan masukan kepada klien dan kemudian praktikan memberikan kesempatan pada klien untuk menambahi masukan yang belum diberikan oleh temannya.
Setelah masukan-masukan baik dari klien maupun dari teman-teman klien, praktikan bersama-sama klien dan teman-temannya merumuskan alternatif pemecahan masalah yang akan dipilih untuk menyelesaikan masalahnya.
Adapun hasil yang diperoleh dari konseling kelompok ini antara lain adalah klien merasa masalah yang dihadapinya. Selain itu klien menjadi lebih terbuka pada praktikan dan juga pada teman-temannya tentang permasalahan yang ia hadapi khususnya masalah belajar klien. Klien dan juga kedua temannya merumuskan jadwal belajar bersama.
5)      Menberikan Informasi Cara Belajar yang Efektif.
Layanan informasi yang diberikan pratikan berkaitan dengan permasalahan yang dialami oleh klien yaitu pada bimbingan belajar. Pemberian informasi diberikan karena klien belum mengetahui tentang bagaimana belajar yang efektif. Kegiatan ini dilakukan oleh praktikan saat klien datang pada praktikan untuk berkonseling, tepatnya pada hari Kamis 20 Oktober 2006. untuk pelaksanaan layanan informasi, praktikan memberikan layanan informasi secara individual. Adapun tujuan dari pemberian informasi ini melihat dari permasalahan klien yang mengalami permasalahan dalam belajar. Informasi ini berisi tentang bagaimana seorang dapat belajar secara efektif dengan pemahaman terhadap bahan yang dipelajari.[7]



[1] Prayitno, Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan Dan Konseling, Jakarta, PT Rineka Cipta, 1999, hlm. 256
[2] Hallen A., Bimbingan Dan Konseling, Jakarta, Ciputat Pers, 2002, hlm. 84
[3] Prayitno, Erman Amti, Op.Cit, hlm. 284
[4] Agus Retnanto, Bimbingan dan Konseling, Kudus, Buku Daros, hlm. 143-144
[5] Hallen A. Op. Cit, hlm. 88                                                        
[6] Anas Salahuddin, Bimbingan Dan Konseling, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2009, hlm. 140
[7] Blogspot.layananbimbingankonseling.com