Friday, May 3, 2013

Hadist pada Masa Rasulullah SAW



Membicarakan hadits pada masa Rasul SAW berarti membicarakan hadits pada awal pertumbuhannya. Maka dalam uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul sebagai sumber hadits.
Rasul membina umatnya selama 23 tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus diwurudkannya hadist. Keadaan ini sangat menuntut keseriusan dan kehati-hatian para sahabat sebagai pewaris pertama ajaran islam. Untuk lebih memahami kondisi/ keadaan hadist pada zaman Nabi SAW berikut ini penulis akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan:
1.    Cara Rasulullah Menyampaikan Hadist
Rasulullah dan para sahabat hidup bersama tanpa penghalang apapun, mereka selalu berkumpul untuk belajar kepada Nabi Saw. di masjid, pasar, rumah,dalam perjalanan dan di majelis ta’lim. Ucapan dan perilaku beliau  selalu direkam dan dijadikan uswah (suri tauladan) bagi para sahabat dalam urusan agama dan dunia.[1] Selain para sahabat yang tidak berkumpul dalam majelis Nabi Saw. untuk memperoleh patuah-patuah Rosulullah, karena tempat tingal mereka berjauhan, ada di kota dan di desa begitu juga profesi mereka berbeda, sebagai pedagang, buruh dll. Kecuali mereka berkumpul bersama Nabi Saw. pada saat-saat tertentu seperti hari jumat dan hari raya. Cara rasulullah menyampaikan tausiahnya kepada sahabat kemudian sahabat menyampaikan tausiah tersebut kepada sahabat lain yang tidak bisa hadir (ikhadz)[2]
2.    Keadaan Para Sahabat Dalam Meneriama Dan Menguasai Hadist
Kebiasaan para sahabat dalam menerima hadits  bertanya langsung kepada Nabi Saw. dalam problematika yang dihadapi oleh mereka, Seperti masalah hukum syara’ dan teologi. Diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam kitabnya dari ‘Uqbah bin al-Harits tentang masalah pernikahan satu saudara karena  radla’ (sepersusuan). Tapi perlu diketahui, tidak selamanya para sahabat bertanya langsung. Apa bila masalah biologis dan rumah tangga, mereka bertanya kepada istri-istri beliau melalui utusan istri mereka, seperti masalah suami mencium istrinya dalam keadaan puasa.[3]
Telah kita ketahui, bahwa kebanyakan sahabat untuk menguasai hadist Nabi Saw., melalui hafalan tidak melalui tulisan, karena difokuskan untuk mengumpulkan al-Quran dan dikhawatirkan apabila hadist ditulis maka timbul kesamaran dengan al-Quran.[4]
3.    Larangan Menulis Hadis Dimasa Nabi Muhammad SAW
            Hadis pada zaman nabi Muhammad saw belum ditulis secara umum sebagaimana al-Quran. Hal ini disebabkan oleh dua factor ;
  1. para sahabat mengandalkan kekuatan hafalan dan kecerdasan otaknya, disamping alat-alat tulis masih kuarang.
  2. karena adanya larangan menulis hadis nabi.
            Abu sa’id al-khudri berkata bahwa rosululloh saw bersabda:
لا تكتبوا عني شيٌا الا القران ومن كتب شيُا فليمحه
Janganlah menulis sesuatu dariku selain al-Qua’an, dan barang siapa yang menulis dariku hendaklah ia menghapusnya. ( H.R Muslim )
            Larangan tersebut disebabkan karena adanya kekawatiran bercampur aduknya hadis dengan al-Qur’an, atau mereka bisa melalaikan al-Qua’an, atau larangan khusus bagi orang yang dipercaya hafalannya. Tetapi bagi orang yang tidak lagi dikawatirkan, seperti yang pandai baca tulis, atau mereka kawatir akan lupa, maka penulisan hadis bagi sahabat tertentu diperbolehkan.
4.    Aktifitas Menulis Hadist
Bahwasanya sebagian sahabat telah menulis hadist pada masa Rosulullah, ada yang mendapatkan izin khusus dari Nabi Saw.,hanya saja kebanyakan dari mereka yang senang dan kompeten menulis hadist  menjelang akhir kehidupan Rosulullah.[5]
Keadaan Sunnah pada masa Nabi SAW belum ditulis (dibukukan) secara resmi, walaupun ada beberapa sahabat yang menulisnya. Hal ini dikarenakan ada larangan penulisan hadist dari Nabi Saw. penulis akan mengutip satu hadist hadist yang lebih shahih dari hadist tentang larangan menulis. Rasulullah Saw. bersabda:
 
لاتكتبو اعنّى شيئا غير القران فمن كتب عنىّ شيئا غير القر ان فليمحه.
” jangan menulis apa-apa selain Al-Qur’an dari saya, barang siapa yang menulis dari saya selain Al-Qur’an hendaklah menghapusnya”. (HR. Muslim dari Abu Sa;id Al-Khudry).
Tetapi disamping ada hadist yang melarang penulisan ada juga hadist yang membolehkan penulisan hadist, hadist yang diceritakan oleh Abdullah bin Amr, Nabi Saw. bersabda

اكتب فو الذى نفسى بيده ما خرج منه الاالحق
” tulislah!, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaan-Nya, tidak  keluar dariku kecuali yang hak”.(Sunan al-Darimi)
            Dua hadist diatas tampaknya bertentangan, maka para ulama mengkompromikannya sebagai berikut:
a.    Bahwa larangan menulis hadist itu terjadi pada awal-awal Islam untuk memelihara agar hadist tidak tercampur dengan al-Quran. Tetapi setelah itu jumlah kaum muslimin semakin banyak dan telah banyak yang mengenal Al-Quran, maka hukum larangan menulisnya telah dinaskhkan dengan perintah yang membolehkannya.
b.    Bahwa larangan menulis hadist itu bersifat umum, sedang perizinan menulisnya bersifat khusus bagi orang yang memiliki keahlian tulis menulis. Hingga terjaga dari kekeliruan dalam menulisnya, dan tidak akan dikhawatirkan salah seperti Abdullah bin Amr bin Ash.
c.    Bahwa larangan menulis hadist ditujukan pada orang yang kuat hafalannya dari pada menulis, sedangkan perizinan menulisnya diberikan kepada orang yang tidak kuat hafalannya.[6]


[1] Mushtafa al-Suba’i. Assunnah. Kairo: Dar-Assalam. 2003. Hlm. 66.
[2] Ibid.
[3] Ibid.hlm. 67.
[4] Mana’ al-Qathan. Tarikh al-Tasyri’ al-Islami. Kairo: Maktabah Wahbah. 1989. hlm. 106
[5] Imam al-Turmudzi meriwayatkan  bahwasanya Sa’ad bin Ubaidah al-Anshari memiliki shahifah (lembaran) hadist dan sunah Rasulullah, dan imam Bukhari meriwayatkan bahwa shahifah (lembaran) milik  Abdullah bin Abi ‘aufa yang telah ditulis oleh sendiri melalui bacaan-bacaan Sahabat. Tsamurah bin Jundub (w. 60 H) ia telah mengkoleksi banyak hadist dalam salinan besar yang diwariskan kepada anaknya, Sulaiman.Sahabat Jabir (w. 78 H) juga memiliki shahifah, diriwayatkan oleh imam Muslim, shahifah tersebut berisi tentang manasik haji, isi sebagian hadist-hadistnya waktu Rasulullah khutbah pada waktu haji wada’. Tabi’in yang memiliki shahifah yaitu Qatadah bin Sudaisi (w. 118 H). Shahifah yang terkenal pada masa Nabi Saw. yaitu “Ashahifah al-Shadiqah” yang telah ditulis  dari Rasullullah Saw. oleh Abdillah bin Amr bin ‘Ash, menurut Ibnu al-‘Atsir shahifah tersebut mencakup seribu hadits. Pada suatu ketika Abdullah dating meminta fatwa Rasulullah dalam hal penulisan , ia berkata :”ya Rasulullah aku akan mencatat setiap aku dengar? Jawab Rasulullah: ya, kemudian Abdullah berkata lagi ‘dalam keadaan senang dan marah? Rasulullah berkata: ya, sesungguhnya tidak ada perkataanku kecuali haq (benar). Dipertegas lagi dengan perkataan Abi Hurairah ra. Ia berkata:” tidak ada salah satu sahabat Rasulullah Saw. yang memperoleh banyak hadist dari pada saya kecuali Abdullah bin Amar, ia mencatat sedangkan aku tidak mencatatnya. Sahabat-sahabat seperti Abdullah bin Abbas (w. 69 H) juga menulis tentang sunnah dan sejarah Rasulullah dipapan yang ia bawah ketika mengajar di majelis ilmu. Telah kita ketahui bahwa hadist telah ditulis dan dicatat pada zaman Nabi Saw., sahabat, tabi’in tapi belum terkodifikasi secara lengkap.Subhi al-Shalih. Ulum al-hadist wa Mushtalahuhu. Beirut: Dar al-Ilmi Li al-malayin. 1997. hlm. 23-30.
[6] Muhammad Ajjaj al-Khatib. Al-Sunnah Qabla al-Tadwin. Kairo: Maktabah wahbah. 1998.hlm. 303-309.
Lihat Mana’ al-Qathan. Op. Cit. halaman 106.

No comments:

Post a Comment

Terima Kasih banyak sudah berkomentar di postingan ini.