1. Hadist pada
masa sahabat
Periode kedua sejarah perkembangan
hadist, adalah periode setelah wafatnya Rasulullah Saw., yang biasa kita kenal
dengan masa sahabat, khususnya masa Khulafa Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn
Khattab, Usman Ibn Affan dan Ali Ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H.
sampai 40 H, masa ini juga disebut dengan sahabat besar.
Sahabat Dan Periwayatan Hadist
Pada masa menjelang kerasulannya, Rasul SAW berpesan kepada para
sahabat agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Hadist serta mengerjakannya
kepada orang lain sebagai mana sabdanya:
عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ بَلَغَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم- قَالَ « تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه
”Telah aku tinggalkan untuk kalian dua macam, yang tidak akan
tersesat setelah berpegang kepada keduanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan
sunnahku ” (H.R Malik).[1]
Perlu diketahui
oleh kita, walaupun ini bukan pembahasan dalam makalah ini, tapi untuk sekedar
informasi untuk teman-teman bahwa hadist ada dua jalan sahabat dalam
meriwayatkan hadist dari Rasul saw
a.
Abu
Bakar
Imam Hakim meriwayatkan dari Qasim bin Muhammad dari siti ‘Aisyah
ra., ia berkata:” Ayahku telah mengumpulkan
hadist dari Nabi Saw. sejumlah lima ratus hadist, setiap malam ia
mengulang-ulang beberapa kali…, setelah itu ia membakarnya. [2]
b.
Umar
bin Khatab
Umar bin Khatab ra. Pernah ingin
mengumpulkan dan menulis hadist, beliau bermusyawarah dengan para sahabat Rasul
lainya dan mereka menyetujui ide tersebut. Kemudian Umar beristikharah selama
sebulan. Namun, rupanya Allah belum menghendaki.[3]Kemudian
ia berkata:” Aku ingin menulis sunnah, setelah itu aku ingat kaum sebelum kamu
sekalian menulis kitab, mereka memfokuskan pada tulisan itu, kemudian ia
meninggalkan kitab Allah. Demi Allah sesungguhnya aku tidak akan mencampur
kkitab Allah (al-Quran) dengan yang lain selamanaya.[4]
Masih banyak sahabat-sahabat lain
yang bersikap penuh kehati-hatian, diantaranya
Ustman bin ‘Affan, Ali bin Abu Thalib, abu Musa dll, penulis tidak akan
menjelaskan itu semua dalam makalah yang singat ini.
2.
Hadits
Pada Masa Tabi’in
Tabi’in
telah belajar kepada para sahabat, sehingga ia banyak mengetahui hadist
Rasulullah dari para guru-guru mereka (sahabat), disamping itu mereka
mengetahui para sahabat tentang keengganan menulis hadist dan sahabat
memperbolehkannya, sehingga karakter tersebut diwariskan kepada para tabi’in
besar, sehingga masa ini belum ada hadist yang terkodifikasikan.[5]
[1] Imam Malik. Muatha. Maktabah Syamilah. Vol 2 hlm. 900.
[2] Muhammad Ajjaj al-Khatib. Op. Cit. halaman 309-310..
[3] M.M Abu Syuhbah. Kutubus Sittah.Terjemahan oleh Ahmad
Usman. 1999. Surabaya: Pustaka Progressif. Hlm. 23.
[4] Muhammad Ajjaj al-Khatib. Loc. Cit.
[5] Tabi’in besar yang melarang penulisan hadist diantarnaya, ‘Ubaidah
bin ‘amar al-Salmany al-Mawardi (w. 72 H.), Ibrahim bin Yazid al-Tamimi (w. 92
H.), Jabir bin Zaid ( w.93 H.) dan Ibrahim al-Nakha’i (w. 96 H.), larangan
tersebut karena kehati-hatian mereka. Ibid.
halaman 322.
No comments:
Post a Comment
Terima Kasih banyak sudah berkomentar di postingan ini.