Periode ini dimulai pada masa
pemerintahan Bani Abbas angakatan ke dua (masa pemerintahan al-Muqtadir). Masa
ini disebut juga dengan istilah periode ulama muta’akhirin[i].
Mulai pada periode ini dinamakan sebagai masa pemeliharaan, penertiban,
penambahan, penggabungan, pensyarahan dan pentahrijan.
a. Kegiatan Para Ulama
Pada
periode ini kaadaan daulat islamiyah sudah mulai melemah, namun kegiatan
para ulama hadits dalam melestarikan hadits Nabi tetap tidak terpengaruh, sebab
kenyataannya masih sangat banyak para ulama yang menekuni dan mendalami serta
bersungguh-sungguh dalam memelihara dan mengembangkan pembinaan hadits,
sekalipun caranya berbeda dengan ulama sebelumnya.
Pada abad III H hampir seluruh hadits Nabi telah terbukukan.
Oleh karena itu kegiatan para ulama abad IV H ini, meskipun masih ada yang
melakukan usaha pembukuan (melakukan perlawatan ke daerah dengan tujuan mendapatkan
hadits untuk dihimpunan dalam suatu kitab), tetapi kebanyakan kegiatan mereka ditujukan kepada pemeliharaan
hadits dengan berpedoman pada kitab-kitab yang sudah ada, dengan cara (1) mempelajari (2) menghafal (3) memeriksa
dan menyelidiki sanad (4) menyusun kitab-kitab baru dengan tujuan untuk
memelihara, menertibkan dan menghimpun segala sanad dan matan yang saling
berhubungan serta yang telah termuat
secara terpisah dalam kitab-kitab yang sudah ada (5) memberikan syarah
dan komentar hadits-hadits yang sudah dihimpun dalam kitab hadits yang ada.[ii]
Di antara kitab-kitab yang tersusun
pada abad ini ialah sebagai berikut:
1.
Kitab
al-Shahih, karya Ibnu Huzaimah
2.
Al-Anwa’
wa al-Taqsim, susunan Ibnu Hibban
3.
Kitab
Musnad, karya Abu Awanah
4.
Al-Muntaqa
, susunan Ibnu Jarud
5.
dan
lain-lain
b. Ciri-Ciri Sistem Pembukuan Hadits
Ulama hadits pada periode ini di
samping menyusun kitab hadits seperti metode yang ditempuh ulama sebelumnya,
yaitu dalam bentuk mushannaf dan musnad, juga menyususn kitab
hadits dengan sistem baru sebagai berikut:
1. Kitab Athraf; yaitu kitab
hadits yang isinya hanya menyebut sebagian-sebagian dari matan hadits tertentu,
kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan yang bersangkutan., baik dari
sanad yang berasal dari kitab hadits yang dikutip, maupun dari kitab lain. Misalnya
:
a.
Athraf
al-Shahihain, karya Ibrahin al-Dimasyqy
b.
Athraf
sl-Shahihain, susunan Abu Muhammad Khallaf Ibnu Muhammad al-Wasithi
c.
Athraf
Kutub al-Sittah, susunan Muhammad Ibnu Thahir
al-Maqdisi
2.
Kitab Mustakhraj; yaitu kitab hadits yang memuat matan-matan
hadits yang diriwayatkan misalnya oleh al-Bukhari dan Muslim, atau salah
satunya, kemudian penyusun kitab meriwayatkan matan-matan hadits tersebut
dengan menggunakan sanadnya sendiri yang berbeda. Misalnya:
a. Mustakhraj Shahih
al-Bukhari , karya al-Jurjani
a.
Mustakhraj
Shahih Muslim, karya Abu Awanah
b.
Mustakhraj
Bukhari-Muslim, karya Abu Bakar Ibnu Abdan al-Syirazi
3.
Kitab al-Mustadrak; yaitu kitab hadits yang menghimpun hadits
hadits yang memiliki syarat , misalnya Bukhari-Muslim, atau memiliki syarat
dengan salah satu kitab Bukhari-Muslim. Contohnya : Al-Mustadrak ‘ala al-Shahihaini, karya Imam al-Hakim
4. Kitab Jami’ ; yaitu kitab
hadits yang menghimpun (mengumpulkan )hadits hadits Nabi yang terlah termuat
dalam kitab yang telah ada dalam satu kitab tertentu. Contohnya :
a. Al-Jami’ Baina
al-Shahihaini, karya Ibnu al-Furat
b.
Al-Jami’
Baina al-Shahihaini, karya al-Baghawi
c.
Mashabih
al-Sunan, karya al-Baghawi
5. Kitab Berdasar pokok Masalah;
yaitu kitab hadits yang menghimpun hadits hadits Nabi berdasar masalah tertentu
dari kitab-kitab yang telah ada, contohnya antara lain:
a. Muntaqa
al-Akhbar fi al-Ahkam, karya Majduddin Abd. Salam
b.
Al-Sunan
al-Kubra, karya al-Baghawi
c.
Umdat
al-Ahkam, karya Abd. Ghoni al-Maqdisi
- Kitab Syarah ; yaitu kitab hadits yang memuat hadits-hadits dari kitab tertentu yang sudah ada, kemudian dijelaskan dan dikomentari maksudnya, baik dengan menggunakan ayat al-qur’an, atau hadits nabi atau dengan keterangan rasional. Contohnya antara lain:
a.
Fath
al-Bari, Syarah Shahih al-Bukhari, karya Ibnu Hajar al-Atsqalani
b.
Al-Minhaj,
Syarah Muslim, karya Imam al-Nawawi
c.
Aun
al-Ma’bud, syarah Sunan Abi Dawud, karya Syamsul Haq al-Adhim al-Abady
d.
Qutul
Mughtadzi, Syarah al-Turmudzi, karya Imam al-Syuyuthi
e.
Syarah
Ta’liq, syarah sunan al-Nasa’i, karya Imam al-Syuyuthi
f.
Al-Dibajah,
syarah Sunan Ibnu Majah, karya
Kamaluddin al-Damiri.
- Kitab Mukhtashar; yaitu kitab hadits yang memuat hadits hadits yang sudah dihimpun dalam kitab yang sudah ada, dengan cara menyederhanakan / meringkas periwayatan hadits tertentu. Misalnya dengan membuang sanad, Contoh :
a.
Al-Jami’
al-Shaghir, mukhtashar kitab Jam’ul Jawami’, karya Imam al-Syuyuthi
b.
Muhtashar
Shahih-Muslim, karya Muhammad Fu’ad Abd. Baqi
- Kitab Petunjuk /Kamus Hadits : yaitu kitab yang disusun dengan memuat sebagian kalimat dari sustu hadits Nabi, kemudian menjelaskan letak hadits yang dimaksud di dalam kitab-kitab hadits; mulai dari nama kitab, bab dan sub babnya. Sebagian kitab kamus hadits, ada yang menyebut tempat hadits dengan menunjuk juz dan halaman kitab hadits yang dimaksud. Contohnya antara lain ialah kitab Miftah Kunuz al-Sunnah, karya Prof. Dr. A.J.Winsink. Kitab ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muhammad Fuad Abd. Baqy. Kitab ini memberikan petunjuk untuk mencari matan hadits yang terdapat dalam 14 macam kitab hadits (Kitab shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa’i, Sunan al-Turmudzi, Sunan Ibnu Majah, Sunan al-Darimi, Muwattha’ Malik, Musnad Zaid bin Ali, Musnad Abu Dawud al-Thayalisi, Musnad Ahmad bin Hambal, Thabaqat Ibnu Sa’ad, Sirat Ibnu Hisyam dan al-Maghazi al-Waqidi)
- Kitab Tahrij ; yaitu kitab yang disusun dengan memuat penjelasan tentang tempat-tempat pengambilah hadits yang dimuat dalam kitab tertentu, selkaligus menjelaskan kualitanya. Di antara contohnya :
a. Kitab Takhrij
Ahadits al-Anbiya’, karya Al-Iraqi, merupakan kitab tahrij terhadap
hadits-hadits yang ada dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din, karya al-Ghazali
b.
Kitab Takhrij
Ahadits al-Baidhawi, karya al-Mannawi,sebagai takhrij terhadap hadits-hadits
yang dimuat dalam kitab Tafsir Baidhawi .
10
Kitab Zawa’id ; yaitu kitab hadits yang disusun dengan memuat
hadits-hadits yang diriwayatakan oleh ulama hadits tertentu (dan dimuat dalam
kitab ulama tersebut, misalnya hadits yang dimuat dalam kitab Sunan al-Kubra
karya Imam al-Baihaqi), tetapi tidak dimuat di dalam kitab hadits yang disusun
oleh ulama tertentu pula.Contohnya Seperti kitab Zawaid al-Sunan al-Kubra,
karya al-Bushiri. Memuat hadits hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi.
Tetapi tidak dimuat dalam al-Kutub al-Sittah.
izin copas untuk tugas gan....
ReplyDeleterezpect, untuk background liverpoolnya gan...
YNWA
aq juga liverpundian...